<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/2273281210071836159?origin\x3dhttp://natsumiaya.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Natsumi Aya
A Simple Girl : Explorer. Listener.
Natsumi Aya ♥
Simple girl.
Taurus.
Blood Type A
High School Student.
Art, Design, Computer, Japan.
Surabaya, Indonesian.

Libels//Anabel
ヂノ すき です!






"Aku takut besar"


"Ibu, aku takut jadi orang gede" suara keluar dari mulut kecil aya, ketika tingginya belum mencapai pinggang ibu
Ibu lalu memasang tampang heran. Di saat lagu Sherina yang berjudul Andai Aku Dewasa sedang naik daun karena film Petualangan Sherina sangat sukses dan digemari seluruh kalangan, anak perempuannya berkata bahwa ia takut kalau harus menjadi orang dewasa.
"Lho, Kenapa?" Akhirnya ibu bertanya.
"Nanti aku tambah nakal kalo gede" jawab aya kecil polos.

Ya, sekitar 14 tahun silam, aku takut menjadi besar. takut karena semakin banyak ilmuku, semakin berkembang otakku, semakin aku mengingkari hatiku, semakin aku menyangkal perkataan orang tuaku, semakin aku membantah perintah mereka dan berbuat semau sendiri, bahkan melukai mereka. sejak kecil aku sudah takut untuk durhaka kepada orang tuaku.. lalu, sekitar 3 tahun silam aku mulai melupakan ketakutan ini.

akhir masa SMA, aku menghabiskan banyak waktu dengan teman-temanku. terkadang tidak langsung pulang ketika sekolah berakhir dengan cepat, malah bersama teman-teman (atau yang pada saat itu bisa dikatakan sebagai 'geng') menelusuri jalanan surabaya selatan bahkan hingga sidoarjo. malah, sering telat pulang karena main dahulu bersama mereka. Padahal, bapak selalu memaksa untuk menemaniku keluar malam-malam jika memang harus keluar malam.

masa SMA, yang katanya masa paling bahagia, aku lewati dengan sekitar 6 kali atau lebih kecelakaan. jalanan keputih sampai bundaran waru adalah musuhku. motorku adalah temanku. angin adalah kekasihku dan kecepatan dapat memacu adrenalin dalam darahku. padahal orang tuaku selalu berpesan kepadaku agar aku hati-hati dalam mengendarai kendaraanku. aku tukar kekhawatiran yang sarat akan kasih sayang mereka dengan laju darah yang lebih cepat.

masa awal kuliah, lingkungan memaksaku untuk memperhatikan teman-teman seangkatanku, sedikit mengabaikan kondisi rumah. Lupa alasan mengapa ibuku memaksaku untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi di dekat rumah saja.

Aku memang besar, tapi belum dewasa. Entah apa definisi dewasa itu, sampai kini aku belum sepenuhnya paham.
tapi aku rindu masa-masa kecilku yang polos.
yang malu-malu ketika bapak pulang, tapi kemudian lengket dengan beliau setelah beberapa jam bertemu kembali.
yang selalu menjawab dan menghampiri ibu ketika beliau memanggil.
yang tidak rela ditinggal sendiri di Kediri saat mereka harus pergi bekerja di kota lain.
yang selalu melantunkan lafadz Al-Qur'an setiap hari.
yang selalu tidur tepat waktu dan bangun tepat waktu.

Aya, kapan mau memperbaiki diri?